HANYA CINTANYA DAN KASIHNYA
Oleh Adityo Prawinanto
Hembusan angin membawa butiran air,
bukanlah embun yang menyejukkan mata,
bukanlah salju yang menyegarkan asa,
melainkan pertanda muramnya qalbu.
Mentari bersembunyi murung dalam peraduannya,
bagai tak sudi menembus batas nirwana semesta,
burung camar pun tak seriang biasanya,
seolah sayap tak mampu berkarya.
Langit mendadak gelap gulita,
tak kenal wacana dan tak mengenal teorema,
hujan turun dengan garangnya,
menyapu segala yang ada.
Hati tak mampu merasa,
mulut tak mampu berucap,
pikiran tak mampu bernuansa,
kaki pun tak mampu melangkah.
Teringat sepatah keinginan bersama yang sempat terucap,
menembus dahsyatnya nuansa alunan rintik hujan yang tak pasti,
menengadah ke atas jemari tangan ini bersama,
dan berteriak dalam irama penuh arti.
Namun semua sirna hingga tak sanggup berkata,
hingga kini. . . berharap pun tidak,
hanya cintanya dan kasihnya,
yang mampu meredam kegelisahannya.
Bukan jiwa kerdil yang keliru ini,
bukan hati yang tak sanggup menjajaga ini,
bukanlah ksatria yang hebat sepertinya . . .
